Cerita Rakyat Sidoarjo Jawa Timur - ASAL USUL CANDI PARI

PANDUILMU.COM - Sobat Pandu Ilmu, Pada Cerita kali ini kita akan membahas tentangCerita Rakyat Sidoarjo Jawa Timur - ASAL USUL CANDI PARI. Cerita ini berawal dari zaman dahulu kala, di sebuah gunung yang bernama Gunung Penanggungan, hiduplah seorang lelaki paruh baya yang disebut Kyai Gede Penanggungan. Ia merupakan sosok yang dipercaya oleh masyarakat memiliki kekuatan gaib.

Cerita Rakyat Sidoarjo Jawa Timur - ASAL USUL CANDI PARI

Kyai Gede Penanggungan dikaruniai seorang putri cantik yang diberi nama Dewi Walang Angin. Meskipun begitu cantik, Dewi Walang Angin belum menikah, yang membuat sang ayah sangat khawatir mengenai masa depan putrinya.

Dengan penuh harapan, Kyai Gede berdoa kepada Tuhan untuk memberikan jodoh yang terbaik bagi Dewi Walang Angin. Akhirnya, doa Kyai Gede dijawab, dan pria muda tampan bernama Jaka Pandeglang datang ke tempat Kyai Gede Penanggungan.

Jaka Pandeglang bermaksud untuk menjadi murid Kyai Gede dan belajar banyak dari kebijaksanaannya. Melihat kesempatan ini sebagai momen untuk melepaskan masa lajang putrinya, Kyai Gede menetapkan syarat, yaitu Jaka harus menikahi Dewi Walang Angin.

Meskipun kaget, Jaka pun akhirnya setuju dan bersedia menikahi Dewi Walang Angin. Pernikahan mereka dirayakan meriah, tetapi Kyai Gede Penanggungan merasa sedih karena harus melepas putrinya kepada seorang lelaki. Namun, dia juga merasa bahagia karena yakin Jaka akan menjaga Dewi dengan baik.

Cerita Rakyat Sidoarjo Jawa Timur - ASAL USUL CANDI PARI

Setelah menikah, Jaka Pandeglang tinggal bersama Dewi dan menjadi murid Kyai Gede. Kyai Gede mengajarkan banyak ilmu kepadanya, sehingga Jaka menjadi lebih bijaksana.

Waktu berlalu, dan akhirnya tiba saatnya bagi Jaka dan Dewi untuk meninggalkan Gunung Penanggungan dan mencari kehidupan baru sebagai suami istri. Dengan berat hati, mereka meninggalkan sang ayah, Kyai Gede Penanggungan.

Sebelum pergi, Kyai Gede memberikan benih padi kepada Jaka dan Dewi sebagai simbol rezeki dan harapan untuk masa depan mereka. Mereka pun menempuh perjalanan jauh dan akhirnya menemukan tempat tinggal yang pas untuk bermukim.

Dengan rajin dan telaten, mereka menanam benih padi yang diberikan oleh Kyai Gede Penanggungan. Tanaman padi itu tumbuh dengan subur dan menghasilkan beras berkualitas tinggi dalam jumlah yang sangat banyak.

Kehidupan Jaka dan Dewi semakin berlimpah, dan mereka menjadi pasangan yang sangat kaya raya. Namun, ketika ada tetangga miskin datang meminta bantuan, Jaka Pandeglang menolak dengan kasar dan bahkan mengusir mereka.

Perilaku pelit dan sombong Jaka Pandeglang akhirnya sampai ke telinga Kyai Gede Penanggungan. Sang ayah merasa kecewa dengan perubahan perilaku menantu dan putrinya yang dulunya baik hati dan rendah hati.

Karena kelakuannya yang tidak menghormati dan melupakan pesan-pesan bijak dari sang ayah mertua, Kyai Gede Penanggungan merasa perlu memberikan peringatan. Dia meminta Jaka dan Dewi untuk mendengarkan pesannya, tetapi sayangnya mereka mengabaikannya.

Dengan perasaan marah yang begitu kuat, Kyai Gede Penanggungan mengucapkan sebuah kalimat dengan kekuatan ilmu gaibnya. Tiba-tiba, tubuh Jaka dan Dewi berubah menjadi candi di tengah sawah, sesuai dengan namanya, Candi Pari yang berarti Candi Padi.

Keajaiban itu terjadi karena Kyai Gede Penanggungan masih mempunyai kekuatan ilmu gaib yang begitu hebat. Tidak ada yang kembali lagi, Jaka dan Dewi benar-benar menghilang bersama janji-janji yang sudah mereka ingkari.

Cerita ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua tentang pentingnya menjaga hati, tidak melupakan janji-janji yang pernah diucapkan, serta rendah hati dan tidak sombong dalam mencapai kesuksesan. Kita harus selalu berusaha menjadi pribadi yang baik dan bijaksana, menghormati orang lain, dan memberikan pertolongan bagi mereka yang membutuhkan.

Candi Pari, yang sekarang berdiri kokoh di daerah Sidoarjo, menjadi simbol kebijaksanaan dan kekuatan ilmu gaib Kyai Gede Penanggungan. Cerita rakyat ini juga menjadi bagian penting dari warisan budaya Indonesia yang harus kita lestarikan agar tetap dikenang dan dihargai oleh generasi selanjutnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama